Judul: Anak-Anak Angin
Penulis: Bayu Adi Persada
Tahun: 2013
Tebal: 271 halaman
Pendidikan
adalah tonggak kemajuan makhluk yang disebut manusia, yang membentuk karakter dalam
dirinya. Karakter yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas. Sebuah bangsa
tidak akan menjadi bangsa yang maju hanya karena sumber daya yang melimpah.
Bahkan sumberdaya yang melimpah pun bisa saja menjadi bumerang bagi bangsa itu.
Kemajun bangsa ditentukan oleh sumber
daya manusianya.Penduduk Indonesia yang banyak jumlahnya ini tentu menjadi
berkah tersendiri bagi kemajuan bangsa.
Namun sayangnya bukan jumlah yang menjadi jaminan majunya sebuah bangsa, bukan. Kualitas sumberdaya manusialah kuncinya. Dan tentu saja kualitas yang baik harus diusahakan keberadannya. Apalagi kalau tidak mengambil jalan pendidikan yang berkualitas pula?.Jika saja negeri ini mampu, mampu mmenerapkan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesa secara keseluruhan.bayangkan saja betapa menakjubkan Indonesia. Harus kita akui bahwa pendidikan di Indonesia belum maksimal. Tengok saja pendidikan yang belum merata seluruh negeri. Potret ini akan lebih terasa bila kita melihat ke Indonesia di bagian timur dan daerah perbatasan. Kendalanya banyak sekali, mulai dari fasilitas sekolah, termasuk guru yang terbatas hingga medan yang sulit dijangkau untuk menuntut siswa setiap hari berangkat sekolah.
Namun sayangnya bukan jumlah yang menjadi jaminan majunya sebuah bangsa, bukan. Kualitas sumberdaya manusialah kuncinya. Dan tentu saja kualitas yang baik harus diusahakan keberadannya. Apalagi kalau tidak mengambil jalan pendidikan yang berkualitas pula?.Jika saja negeri ini mampu, mampu mmenerapkan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesa secara keseluruhan.bayangkan saja betapa menakjubkan Indonesia. Harus kita akui bahwa pendidikan di Indonesia belum maksimal. Tengok saja pendidikan yang belum merata seluruh negeri. Potret ini akan lebih terasa bila kita melihat ke Indonesia di bagian timur dan daerah perbatasan. Kendalanya banyak sekali, mulai dari fasilitas sekolah, termasuk guru yang terbatas hingga medan yang sulit dijangkau untuk menuntut siswa setiap hari berangkat sekolah.
Berbagai kondisi ini yang coba diungkap oleh Bayu, seorang pengajar muda angkatan pertama Indonesia Mengajar. Kegagalan bergabung dengan perusahaan multinasional membawanya ke Desa Bibinoi, Halmahera Selatan. Disini ia menghabiskan satu tahun hidup yang berbeda. Hidup dengan anak-anak angin, anak SD dimana ia mengajar. Ditengah masyarakat dengan segala kearifan lokalnya, juga menghadapi wajah pendidikan di desa ini. Banyak masalah yang muncul dan tentu disertai solusinya. Solusi yag tak cukup ditorehkan dengan kemauan dan kata-kata saja, namun lebih kepada tindakan nyata.
Semua berdasarkan peristiwa nyata yang tidak saja menarik disimak namun akan sangat menginspirasi. Ditulis dengan bahasa sehari-hari dan mengalir, buku ini sangat mudah dipahami. Terlebih disisipi beberapa foto dan dialog dengan bahasa lokal yang akan menambah nyata gaambaran kehidupan Bibinoi dan segala peristiwa didalamnya dalam benak kita.
Hanya
saja isi buku yang cukup dengan warna hitam putih termasuk gambar-gambar yang
disisipkan, jika hanya dilihat sekilas mungkin kurang menarik.
Namun diluar itu semua, Buku ini berhasil menjadi jendela antara kita disini dan mereka di desa Bibinoi. Menjadi saksi atas gambaran pendidikan di desa-desa kecil di penjuru tanah air. Menjadi saksi betapapun banyaknya tantangan, masih banyak pula guru, tokoh-tokoh, orang tua, dan orang-orang yang baik dan tulus. Juga anak-anak yang penuh semangat menempuh suka duka pendidikan.


0 komentar:
Posting Komentar