Dawaiku Tertelan Asap

by 23.43 0 komentar

Namaku Seli. Hari itu aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Matahari masih belum memenuhi janjinya pada senja untuk terbit pagi ini. Dadaku sesak. Udara yang kuhirup rasanya tak seperti biasa. Rasanya sama persis saat aku terjebak dalam kebakaran rumah nenek di Bandung setahun lalu. Aku pikir rumahku kebakaran. Spontan loncat dari tempat tidur, berlari keluar menuju kamar ayah bunda. Kosong. Kudengar sayup suara ayah diteras meneriaki bunda. Aku langsung lari kedepan. Langkahku tersandung gagang sapu yang jatuh di lantai. Nyaris terjembab. Kaki kecilku terus bergegas menuju arah suara ayah. Sampai di teras aku mematung. Tak ada api, yang ada hanya asap tebal yang membuat segalanya remang. Ayah dan bunda menghampiri dan membimbingku masuk kedalam rumah lagi. Memberiku beberapa penjelasan yang tak kuperhtikan. Dadaku semakin sesak. Kuhentikan langkah saat melihat jam dinding antik kebanggaan ayah. Jam sembilan pagi.
***
“Bunda kok gak sembuh-sembuh ya Yah?”
Ayah menghampiriku, “Sabar dek, bunda sudah positif ISPA”
“Seli bosen Yah, sudah satu bulan gak kemana-mana, kita ke Bandung aja yuk?”Kataku sambil mencomot kue nastar dimeja.
Belum sempat ayah menanggapi permintaanku, telepon berdering. Entah apa yang dibicarakan ayah di telepon. Sepertinya masalah kantor. Setelah sedikit berdebat dengan seseorang disana telepon ditutup, lalu tanpa sempat menjelaskan banyak ayah bergegas pergi setelah sebelumnya pamit bunda. Ada urusan kantor yang penting, begitu katanya. Ayah memang begitu, selalu sibuk, sesibuk asap ini mengepung kota kami.
Bunda masih terbaring ditempat tidurnya. Sudah seminggu belakangan bunda sakit. ISPA, penyakit paling umum yang nyaris dialami oleh semua penduduk kota kami. Aku juga sempat sakit minggu lalu, beruntung sembuh setelah tiga hari rawat inap dirumahsakit. Asap memang menjadi bencana tahunan dikota kami, tapi kali ini sepertinya yang paling parah. Kata ayah akibat ulah nakal pengusaha kelapa sawit dalam membuka hutan. Aku tak juga paham hingga kini, kenapa orang-orang itu rajin sekali menanam kelapa sawit. Guruku bilang kelapa sawit adalah bahan pembuat sabun, minyak goreng, dan juga margarin. Sebanyak apakah kebutuhan orang-orang pada sabun, minyak goreng dan margarin hingga perkebunan kelapa sawit terus ditambah? Saat sabun mandiku habis, dengan mudahnya kubeli di toko depan rumah. Tak pernah sekalipun penjual bilang stok sabun mandi habis. Bunda bisa beli minyak goreng sama margarin kapanpun. Berbagai merek tersedia sampai bingung milihnya. Tak pernah langka.  Tapi kenapa itu pohon kelapa sawit terus saja ditambah? Entahlah, umurku 8 tahun. Aku tak mengerti.
Aku kembali kekamar. Meraih biola dan memainkannya. Kali ini lebih enak, ayah sudah memasang filter asap dirumah. Jadi tak terlalu menyesakkan lagi meski bau asap sedikit-sedikit masih terasa. Aku mulai latihan biola. Oh iya, dua minggu lagi aku akan ikut resital biola di Jakarta. Event terbesar bagiku selama aku main biola. Entah bagaimana aku bisa ikut resital ini. Guru les biola ku yang mengurus semuanya. Katanya dia mengirim video ku saat latihan ditempat les pada kenalannya yang seorang pemain biola terkenal itu. Kebetulan ia akan menggelar resital biola dan tertarik mengajakku sepanggung dengannya.  Aku sangat menantikan acara itu. Latihan setiap hari dengan guru lesku. Seharusnya aku latihan di tempat les, tapi sejak asap mengepung kota kami, aku hanya seminggu sekali ke tempat les. Selebihnya, guru lesku yang datang kerumah 3 kali seminggu. Malah sejak aku sakit minggu lalu guru lesku memutuskan datang tiap hari kerumah dan aku tak perlu ketempat les.
Ayah Bunda tak kalah senangnya mendengar hal ini. Bunda menemaniku latihan setiap hari, ayah juga jika sedang dirumah. Hanya satu yang bikin bunda khawatir saat aku harus menempuh perjalanan jauh saat situasi seperti ini. Bayangkan saja. Aku sama sekali tak pernah keluar rumah kecuali untuk ke tempat les seminggu sekali. Sekolah libur sejak sebulan yang lalu. Bahkan sejak sakit aku sama sekali tak pernah keluar rumah. Ayah bunda melarang keras. Makanya guru lesku yang disuruh datang. Katanya daya tahan tubuh anak itu belum terlalu kuat menahan dampak asap. Padahal enggak gitu juga deh, buktinya bunda sakitnya lebih lama dari aku.
Hari ini aku latihan sendiri, guru lesku tak bisa hadir karena ada urusan lain. Aku akan memainkan tiga lagu nanti. Satu lagu sendiri dan dua lagu dengan Om Richard, pemain biola terkeal itu. Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya. Hanya pernah beberapa kali lewat skype. Dia menanyakan bagaimana persiapanku dan kutunjukan latihanku padanya. Om Ricahard kayaknya baik. Orang bule asli Australia itu lancar menggunakan bahasa Indonesia. Sudah tiga tahun tinggal di Jakarta katanya.  Dua hari sebelum acara aku harus sampai di Jakarta. Aku akan naik kapal ke Jakarta. Tak ada pilihan lain,  pesawat tak bisa terbang dengan asap sepekat itu.
Kumainkan lagu pertama beberapa kali lalu lanjut lagu kedua dan ketiga Tepat selesai lagu ketiga, kudengar derit pintu depan dibuka. Itu pasti ayah.
“Lagi dong, sudah berapa kali ya ayah melewatkan latihan biolamu?” Ayah menghampiriku dengan sekotak pizza ditangannya.
Aku langsung merebut kotak pizza itu. Tak butuh waktu lama, pizza penuh keju dan daging sapi itu masuk ke mulutku.
“Ayah sibuk mulu sih,” sambil mengunyah pizza.
Ayah hanya tersenyum mengacak rambutku, “Maaf ya, ayo dong main lagi”
Kucomot lagi potongan pizza dipangkuanku “Bentar yah, Seli kan laper.”
Mau tak mau kumainkan lagi lagu pertama untuk Ayah. Dan lagu kedua juga. Terus lanjut lagu ketiga yang membuat ayah berseru takjub.
“Anak ayah keren sekaliiii!” Tepuk tangan ayah riuh bikin brisik kamarku.
Tiba-tiba seseorang masuk.
Aku berseru, “Bundaa!”
“Kok sudah jalan-jalan Bun, sudah enakan?” Ayah membimbing bunda masuk.
“Abis kalian ribut sih, bunda penasaran pada ngapain. Ternyata lagi makan pizza. Bagus ya bunda nggak dikasih.” Bibir bunda dimanyun-manyunkan.
Kami semua tertawa. Hei, aku selalu suka suasana ini. Saat ayah bunda dirumah dan kita berkumpul bersama. Sayang, asap diluar masih pekat.
***
Biola tak pernah jauh dariku sejak kelas satu SD. Berawal dari ketidaksengajaan tante meninggalkan biolanya dirumahku saat menghabiskan liburan kuliahnya disini. Aku iseng saja membuka dan menggeseknya. Aku tahu alat musik ini, pernah kulihat dimainkan di mall saat diajak bunda belanja. Tante juga pernah sekali main biola dirumah ini yang waktu itu tak kupedulikan karena asyik dengan barbie kesayangan. Meski tak bisa memainkannya, aku terus saja menggeseknya hingga ayah ribut bilang suaranya ga enak dan  bikin ngilu. Aku cuek saja. Bundalah yang akhirnya memasukkan ku ke tempat les biola tepat di hari ulang tahunku setelah sebelumnya memberiku biola sebagai hadiah ulang tahun. Aku senang sekali karena dengan begini aku bisa punya alasan untuk tidak melulu belajar dan mengerjakan PR apalagi pelajaran matematika yang susahnya minta ampun.
Disini aku bertemu dengan Kak Olin. Dia pemain biola handal yang pernah kutemui. Tanteku sih lewat sama Kak Olin. Orangnya asyik sekali. Bisa banget bikin ketawa sepanjang latihan dengan humornya. Kak Olin juga yang membantuku merangkai mimpi menjadi pemain biola handal. Saking asyiknya di tempat les, aku sering lebih betah disini  dari pada dirumah hingga bunda kadang marah-marah aku pulang telat.
Seminggu sebelum hari-H. Berarti empat hari menjelang keberangkatanku ke ke Jakarta. Aku sakit lagi. Dadaku sesak bukan main. Batuk ringan yang sejak kemarin mengganggu kini semakin parah. Tenggorokanku sakit. Ayah bunda begitu khawatir dengan kondisiku juga Kak Olin. Hari ini aku dibawa ke rumah sakit. Dokter mengharuskanku rawat inap hingga waktu yang belum ditentukan. Positif ISPA.  Aku menangis sejadinya, tak mau dirawat dirumahsakit. Ayah mentapku dalam diam. Tatapan yang mengharuskan aku untuk tak menolak dirawat.
“Bun aku mau ke Jakarta” bisikku disela-sela tangis.
Bunda memeluku, “Ke Jakartanya kan masih minggu depan Sayang, nginep disini dulu ya biar cepet sembuh terus kita ke Jakarta.“
Akhirnya aku menurut. Kak Olin datang ke rumah sakit beberapa jam kemudian. Berbicara serius dengan Ayah. Mungkin membicarakan resital biolaku. Sunguh, aku tetap ingin ke Jakarta apapun kondisinya. Ini mimpiku, mana mungkin aku lepas begitu saja saat tinggal selangkah lagi mewujudkannya.
“Hei Seli, pasti sudah baikan dong, besok kan mau ke Jakarta. Diminum obatnya, makan yang banyak biar cepet keluar dari sini ya. Kak Olin sudah beli tiket ke Jakarta tuh, kan sayang kalo nggak kepake.” Kak Olin nyerocos begitu mendekati tempat tidurku.
Aku tertawa, “Jadilah Kak, pokoknya apapun yang terjadi aku tetap harus ikut resital biola itu.”
“Tapi kata Om Richard kamu harus sembuh dulu kalau mau ikutan resital,” Kak Olin bersedekap sok serius.
“Yaah kok bilang-bilang Om Richard sih kalo aku sakit. Jadi ribet kan urusan, pake syarat-syarat segala.” Aku manyun.
Aku bertekad sembuh sejak detik itu. Aku makan banyak meski sebenarnya tak nafsu. Obatpun aku minum tanpa banyak alasan seperti biasanya. Untung aku adalah anak yang bisa dengan mudah menelan tablet-tablet itu. Setiap dokter atau suster datang ke kamar aku hanya bertanya apakah aku sudah sembuh. Dokter dan suster selalu tersenyum dan bilang keadaan ku membaik.
Namun berbeda kali ini. Malam keduaku di rumahsakit. Aku susah bernafas. Badanku menggigil, sepertinya demam juga. Bunda panik. Kebetulan ayah tak menungguiku malam ini, ada urusan kantor. Dokter langsung datang ke kamar. Aku diberi oksigen hingga nafasku normal seperti biasa. Dokter mengajak Bunda bicara diluar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya takut dokter tak mengijinkanku ke Jakarta dua hari lagi.
Esok harinya Bunda menasehatiku.  Benar saja, kata dokter aku sangat beresiko untuk perjalanan jauh. Terlebih asap masih pekat dikota kami. Aku menangis sejadinya. Aku tak tahu resiko apa, aku tak peduli. Aku hanya ingin ikut resital biola. Itu saja. Lima menit kemudian dokter datang.
“Dok, apa yang harus Seli lakukan untuk bisa sembuh dalam dua hari? Apapun dok akan Seli lakukan, Seli mau makan sebanyak apapun, mau juga minum obat sepahit apapun. Kalau Seli mau disuntik juga Seli mau. Atau Seli harus dioperasi dok? Nggak papa Seli mau. Nanti biar ayah bayar semuanya dok,”
Aku menatap bunda,“Bun Seli nggak papa kok nggak dikasih uang jajan untuk ganti bayar biaya operasi. Sungguh Bun, asal Seli bisa resital biola.” Seketika tangisku meledak. Bunda hanya terdiam dan kulihat menyeka air matanya.
“Nggak Seli, kamu tak perlu dioperasi. Cukup kamu makan dan minum obat seperti biasa dan yang paling penting kamu harus semangat buat sembuh. Jangan lupa berdoa juga Sayang.” Dokter menyeka air mataku.
***
Besok adalah jadwal keberangkatanku ke Jakarta. Tapi sore ini aku masih dirumahsakit. Dokter masih belum membolehkanku pulang. Ayah menasehatiku untuk tak memaksakan diri. Kak Olin juga akan menghubungi Om Richard kalau aku tak bisa.
“Pokoknya Seli mau ikut resital biola itu! Biar Seli berangkat sendiri saja kalau Ayah sama Kak Olin nggak mau nganterin. Seli harus tetap ke Jakarta!” Aku berseru hingga terbatuk.
Bunda diam saja, hanya bergegas memberiku minum kemudian mengajak ayah dan Kak Olin keluar kamar. Bunda pasti mengerti. Semalaman aku menangis ditemani bunda. Beberapa saat kemudian Kak Olin masuk ke kamar. Kak Olin berusaha menghibur dengan candaannya. Aku diam saja. Baru kali ini candaan Kak Olin sama sekali nggak lucu.
Hingga malam hari aku masih di rumah sakit. Kata Bunda, dokter menyuruhku menunggu sampai besok. Aku menangis lagi didepan ayah, bunda, juga Kak Olin. Bunda memelukku. Semuanya diam.
***
Keesokan harinya aku dibolehkan pulang. Tapi keberangkatanku ke Jakarta ditunda jadi dua hari sebelum resital biola itu digelar. Pulang dari rumah sakit aku sama sekali tak beranjak dari tempat tidur kecuali untuk buang air. Bunda sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa besok.
Aku berangkat pagi-pagi sekali. Matahari baru saja menampakkan diri ketika aku keluar rumah bersama ayah dan bunda. Didepan Kak Olin sudah menunggu di dalam taksi. Dua puluh menit perjalanan ke pelabuhan. Tubuhku sudah jauh lebih bersahabat sekarang. Sudah tidak demam lagi meski batuknya masih ada sedikit.  Masker yang kukenakan ternyata cukup ampuh melindungi dari asap. Aku bisa bernafas seperti biasanya.
Perajalanan dengan kapal pun lancar. Sampai Jakarta aku dijemput langsung oleh Om Richard dan supirnya. Aku berseru riang. Jakarta keren sekali ya. Baru kali ini aku ke kota ini. Ternyata sama seperti yang kulihat di televisi. Gedung-gedung megah, mall-mall besar, hotel-hotel mewah. Dikotaku ada sih, tapi tak sekeren ini.
Aku langsung ke hotel. Malam harinya aku latihan sebentar di tempat resital digelar. Wuiiih panggungnya megah sekali. Lampu sorot dimana-mana, mungkin ratusan. Kursi penonton banyak sekali, berarti besok akan ada banyak yang nonton. Sudah ada banyak orang menyiapkan acara disini. Aku latihan menggesek biolaku bersama Om Richard, dia tersenyum puas melihatku bermain. Syukurlah.
***
Akhirnya hari yang kutunggu tiba juga. Aku memakai baju terbaikku yang khusus dirancang untuk acar ini. Kak Olin mengingatkanku beberapa hal sebelum aku naik panggung beberapa saat lagi.
Sekarang OM Richard sedang tampil sendiri. Sungguh keren sekali, hingga kulihat beberapa penonton menitikkan air mata. Selesai dengan lagu itu, namaku dipanggil. Aku naik panggung diiringi tepuk tangan penonton. Aku memainkan lagu pertamaku. Sendiri. Diakhiri tepuk tangan meriah penonton diakhir lagu itu.
Lagu kedua adalah kolaborasiku dengan Om Richard. Gedung itu terasa bergetar oleh tepuk tangan penonton menikmati kolaborasi kami. Sebenarnya dadaku sudah agak nggak enak sejak lagu kedua ini dimuali. Tapi aku berusaha fokus. Namun diakhir lagu, aku sudah mulai nggak fokus. Aku tak menggesek biolaku saat tiba giliranku. Jadilah bagianku diambil alih oleh Om Richard. Setelah lagu itu selesai dan kami membungkuk memberi penghormatan pada penonton, aku langsung balik badan dan berlari kebelakang panggung. Padahal tak seharusnya kulakukan itu, masih ada satu lagu lagi yang harus kumainkan. Om Richard pasti bingung didepan sana. Tapi kurasa ini pilihan terbaik.
Sampai dibelakang panggung aku tersungkur dilantai. Dadaku semakin sesak. Aku sulit bernafas. Badanku gemetar. Bunda panik mendekatiku, meletakkan kepalaku dipangkuannya. Kudengar langkah ayah juga Kak Olin mendekat. Mereka mengajakku bicara, tapi aku tak mendengarnya. Pandanganku juga mulai kabur. Bunda menggoncankan tubuhku. Aku berusaha untuk melihat dan mendengar mereka tapi tak bisa. Hanya satu kata yang keluar dari mulutku saat itu. “Bunda..” Aku kehilangan kesadaran. Sepertinya nafasku habis.

warnakata

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar